
MLM atau multi-level marketing sendiri bukan otomatis berarti penipuan. Ada perusahaan yang menjalankan bisnis MLM secara legal dan memiliki produk yang benar-benar dijual kepada konsumen.
Masalahnya muncul ketika produk kesehatan dijadikan kendaraan untuk membuat klaim berlebihan, menjual dengan harga yang tidak masuk akal, atau mendapatkan keuntungan terutama dari perekrutan anggota baru.
Dan ketika yang dijual adalah harapan kesembuhan, persoalannya menjadi jauh lebih serius.
Produk MLM Bisa Saja Bermanfaat, Tetapi Bukan Berarti Bisa Menyembuhkan Segalanya
Ini bagian yang sering dilupakan.
Sebuah produk bisa saja memiliki izin edar, terdaftar secara resmi, memiliki kandungan tertentu, atau bahkan memang memberikan manfaat bagi penggunanya.
Tetapi hal tersebut tidak otomatis berarti produk tersebut dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Setiap obat, suplemen, maupun alat kesehatan mempunyai:
- kegunaan atau fungsi tertentu;
- aturan penggunaan;
- batas penggunaan;
- kontraindikasi atau peringatan tertentu;
- kemungkinan efek samping;
- kelompok pengguna yang perlu berhati-hati;
- serta bukti ilmiah yang mendukung klaim manfaatnya.
Jadi, kalau sebuah produk awalnya mempunyai fungsi tertentu kemudian oleh distributor diklaim mampu menyembuhkan berbagai penyakit, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
"Dasarnya apa?"
Terlebih jika klaim tersebut sudah masuk ke penyakit serius seperti kanker, HIV, leukemia, kelumpuhan, dan penyakit berat lainnya.
Di titik ini, konsumen seharusnya tidak mudah percaya hanya karena seseorang bercerita bahwa dirinya merasa lebih baik setelah menggunakan produk tersebut.
Overclaim Adalah Salah Satu Tanda yang Perlu Diwaspadai
Menurut saya, salah satu tanda bahaya dalam pemasaran produk kesehatan adalah overclaim.
Misalnya sebuah produk sebenarnya memiliki fungsi atau manfaat tertentu, tetapi kemudian dipasarkan dengan narasi:
"Bisa menyembuhkan banyak penyakit."
Atau lebih jauh lagi:
"Sudah terbukti menyembuhkan kanker."
"Dokter tidak bisa menyembuhkan, produk ini bisa."
"Penyakit kronis hilang setelah memakai produk ini."
"Tidak perlu obat lagi."
Kalimat-kalimat seperti ini bukan sesuatu yang seharusnya diterima begitu saja.
Obat atau alat kesehatan yang benar tidak bekerja dengan logika "satu produk untuk semua penyakit".
Penyakit memiliki penyebab, mekanisme, tingkat keparahan, dan penanganan yang berbeda-beda.
Kanker saja bukan satu penyakit tunggal. Ada berbagai jenis kanker dengan karakteristik dan penanganan yang berbeda.
Begitu pula HIV, leukemia, kelumpuhan, diabetes, penyakit jantung, dan berbagai penyakit lainnya.
Karena itu, semakin luas klaim kesembuhan yang dibuat oleh sebuah produk, terutama terhadap penyakit berat, semakin besar pula alasan untuk mempertanyakan klaim tersebut dan meminta bukti ilmiahnya.
Legal Tidak Sama dengan Semua Klaim Penjualnya Benar
Ada juga kesalahpahaman lain:
"Perusahaannya legal, berarti produknya pasti bisa menyembuhkan seperti yang dikatakan distributornya."
Belum tentu.
Status legal sebuah perusahaan atau izin edar sebuah produk tidak boleh diterjemahkan menjadi:
"Semua ucapan marketingnya pasti benar."
Legalitas perusahaan, izin edar produk, standar keamanan, dan bukti efektivitas adalah hal yang berbeda.
Produk yang legal tetap harus digunakan sesuai fungsi dan aturan yang berlaku.
Begitu pula distributor tidak seharusnya bebas membuat klaim medis di luar bukti atau izin yang dimiliki produknya.
Bahkan, kalau ada distributor mengatakan sesuatu yang sangat berbeda dengan informasi resmi produknya, konsumen justru harus semakin berhati-hati.
Jadi jangan menggunakan kalimat "ini legal kok" sebagai pengganti bukti ilmiah.
Legalitas adalah salah satu hal yang perlu diperiksa, bukan tiket untuk mempercayai semua klaim.
Overprice: Ketika Produk Dijual Jauh di Atas Nilai Sewajarnya
Masalah lainnya adalah harga.
Produk kesehatan yang masuk ke sistem MLM bisa memiliki harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan produk sejenis di pasaran.
Harga tinggi sebenarnya tidak otomatis berarti penipuan.
Sebuah produk bisa memiliki biaya penelitian, produksi, distribusi, pemasaran, teknologi, atau kualitas bahan yang memang lebih mahal.
Namun konsumen tetap berhak bertanya:
"Saya membayar mahal ini untuk kualitas produknya atau untuk membiayai sistem bisnisnya?"
Ini pertanyaan yang sangat penting.
Kalau sebagian besar daya tarik produk justru berasal dari peluang mendapatkan komisi karena merekrut orang baru, sementara penjualan kepada konsumen akhir bukan menjadi fokus utama, maka konsumen perlu lebih berhati-hati.
Jangan sampai seseorang membeli produk bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena dijanjikan:
"Kalau kamu ikut sekarang, nanti bisa mendapatkan penghasilan."
Ketika Uang Lebih Banyak Didapat dari Member yang Bergabung
Di sinilah pembahasan MLM menjadi semakin menarik.
Sebuah sistem pemasaran berjenjang bisa memiliki struktur komisi. Itu sendiri belum cukup untuk menyimpulkan bahwa bisnis tersebut ilegal.
Tetapi konsumen perlu melihat dari mana uang sebenarnya berasal.
Apakah pendapatan terutama berasal dari penjualan produk kepada konsumen yang memang membutuhkan produk tersebut?
Atau justru fokus utamanya:
"Cari member."
Kemudian member baru diminta membeli paket tertentu, membeli stok, atau melakukan transaksi tertentu agar bisa masuk ke dalam sistem.
Setelah itu, member tersebut didorong mencari orang lain.
Kalau seseorang memperoleh keuntungan terutama karena berhasil membuat orang baru masuk dan membayar, bukan karena produk benar-benar memiliki permintaan konsumen yang sehat, maka model seperti ini patut dicermati lebih serius.
Karena pada akhirnya, produk kesehatan bisa berubah fungsi menjadi sekadar alat untuk menjalankan perekrutan.
Yang Paling Berbahaya: Menjual Harapan kepada Orang yang Sudah Putus Asa
Menurut saya, ini adalah bagian yang paling sensitif.
Bayangkan seseorang sudah berobat ke berbagai tempat.
Atau lebih jauh lagi:
"Sudah terbukti menyembuhkan kanker."
"Dokter tidak bisa menyembuhkan, produk ini bisa."
"Penyakit kronis hilang setelah memakai produk ini."
"Tidak perlu obat lagi."
Kalimat-kalimat seperti ini bukan sesuatu yang seharusnya diterima begitu saja.
Obat atau alat kesehatan yang benar tidak bekerja dengan logika "satu produk untuk semua penyakit".
Penyakit memiliki penyebab, mekanisme, tingkat keparahan, dan penanganan yang berbeda-beda.
Kanker saja bukan satu penyakit tunggal. Ada berbagai jenis kanker dengan karakteristik dan penanganan yang berbeda.
Begitu pula HIV, leukemia, kelumpuhan, diabetes, penyakit jantung, dan berbagai penyakit lainnya.
Karena itu, semakin luas klaim kesembuhan yang dibuat oleh sebuah produk, terutama terhadap penyakit berat, semakin besar pula alasan untuk mempertanyakan klaim tersebut dan meminta bukti ilmiahnya.
Legal Tidak Sama dengan Semua Klaim Penjualnya Benar
Ada juga kesalahpahaman lain:
"Perusahaannya legal, berarti produknya pasti bisa menyembuhkan seperti yang dikatakan distributornya."
Belum tentu.
Status legal sebuah perusahaan atau izin edar sebuah produk tidak boleh diterjemahkan menjadi:
"Semua ucapan marketingnya pasti benar."
Legalitas perusahaan, izin edar produk, standar keamanan, dan bukti efektivitas adalah hal yang berbeda.
Produk yang legal tetap harus digunakan sesuai fungsi dan aturan yang berlaku.
Begitu pula distributor tidak seharusnya bebas membuat klaim medis di luar bukti atau izin yang dimiliki produknya.
Bahkan, kalau ada distributor mengatakan sesuatu yang sangat berbeda dengan informasi resmi produknya, konsumen justru harus semakin berhati-hati.
Jadi jangan menggunakan kalimat "ini legal kok" sebagai pengganti bukti ilmiah.
Legalitas adalah salah satu hal yang perlu diperiksa, bukan tiket untuk mempercayai semua klaim.
Overprice: Ketika Produk Dijual Jauh di Atas Nilai Sewajarnya
Masalah lainnya adalah harga.
Produk kesehatan yang masuk ke sistem MLM bisa memiliki harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan produk sejenis di pasaran.
Harga tinggi sebenarnya tidak otomatis berarti penipuan.
Sebuah produk bisa memiliki biaya penelitian, produksi, distribusi, pemasaran, teknologi, atau kualitas bahan yang memang lebih mahal.
Namun konsumen tetap berhak bertanya:
"Saya membayar mahal ini untuk kualitas produknya atau untuk membiayai sistem bisnisnya?"
Ini pertanyaan yang sangat penting.
Kalau sebagian besar daya tarik produk justru berasal dari peluang mendapatkan komisi karena merekrut orang baru, sementara penjualan kepada konsumen akhir bukan menjadi fokus utama, maka konsumen perlu lebih berhati-hati.
Jangan sampai seseorang membeli produk bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena dijanjikan:
"Kalau kamu ikut sekarang, nanti bisa mendapatkan penghasilan."
Ketika Uang Lebih Banyak Didapat dari Member yang Bergabung
Di sinilah pembahasan MLM menjadi semakin menarik.
Sebuah sistem pemasaran berjenjang bisa memiliki struktur komisi. Itu sendiri belum cukup untuk menyimpulkan bahwa bisnis tersebut ilegal.
Tetapi konsumen perlu melihat dari mana uang sebenarnya berasal.
Apakah pendapatan terutama berasal dari penjualan produk kepada konsumen yang memang membutuhkan produk tersebut?
Atau justru fokus utamanya:
"Cari member."
Kemudian member baru diminta membeli paket tertentu, membeli stok, atau melakukan transaksi tertentu agar bisa masuk ke dalam sistem.
Setelah itu, member tersebut didorong mencari orang lain.
Kalau seseorang memperoleh keuntungan terutama karena berhasil membuat orang baru masuk dan membayar, bukan karena produk benar-benar memiliki permintaan konsumen yang sehat, maka model seperti ini patut dicermati lebih serius.
Karena pada akhirnya, produk kesehatan bisa berubah fungsi menjadi sekadar alat untuk menjalankan perekrutan.
Yang Paling Berbahaya: Menjual Harapan kepada Orang yang Sudah Putus Asa
Menurut saya, ini adalah bagian yang paling sensitif.
Bayangkan seseorang sudah berobat ke berbagai tempat.
Sudah mencoba berbagai metode.
Sudah mengeluarkan banyak uang.
Sudah bertahun-tahun menghadapi penyakit.
Kemudian datang seseorang dan berkata:
"Coba produk ini. Banyak orang sudah sembuh."
Orang yang sedang berada dalam kondisi seperti itu tentu sangat mudah berharap.
Dan berharap bukan kesalahan.
Manusia memang membutuhkan harapan ketika sedang sakit.
Masalahnya muncul ketika harapan tersebut digunakan untuk membuat seseorang percaya bahwa produk tertentu adalah jalan keluar utama, bahkan sampai meninggalkan pengobatan yang seharusnya.
Di sinilah pemasaran kesehatan yang tidak bertanggung jawab dapat menjadi sangat berbahaya.
Fake Recovery dan Efek Sugesti
Ada fenomena yang juga perlu dipahami.
Seseorang bisa merasa kondisinya membaik setelah menggunakan sebuah produk. Bisa saja tubuhnya memang mengalami perubahan. Bisa juga penyakitnya sedang berada dalam fase tertentu. Bisa juga ada perubahan gaya hidup, pola tidur, pola makan, atau pengobatan lain yang dilakukan bersamaan.
Bahkan sugesti dan harapan positif memang dapat memengaruhi pengalaman seseorang terhadap kondisi yang dirasakannya.
Tetapi merasa lebih baik tidak selalu berarti penyakitnya sudah sembuh.
Inilah yang bisa menjadi jebakan fake recovery atau persepsi kesembuhan yang belum tentu menunjukkan bahwa penyakit dasarnya benar-benar teratasi.
Misalnya seseorang merasa lebih bertenaga setelah mengonsumsi sesuatu.
Itu boleh saja menjadi pengalaman pribadi.
Tetapi pengalaman tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa produk tersebut menyembuhkan kanker, HIV, leukemia, atau penyakit serius lainnya.
Kesembuhan harus dinilai berdasarkan kondisi medis yang tepat, bukan hanya berdasarkan perasaan setelah menggunakan sebuah produk.
Jangan Menghentikan Pengobatan Hanya Karena Testimoni
Testimoni adalah cerita pribadi.
Bukti ilmiah adalah sesuatu yang berbeda.
Kalimat:
"Tetangga saya sembuh."
"Teman saya sembuh."
"Saya sendiri merasa sembuh."
Boleh menjadi pengalaman yang didengar.
Tetapi pengalaman tersebut tidak seharusnya menggantikan diagnosis dan penilaian medis.
Apalagi sampai seseorang menghentikan obat yang diresepkan dokter karena seorang distributor mengatakan:
"Obat dokter itu tidak perlu lagi."
Ini sudah masuk wilayah yang sangat berbahaya.
Kalau seseorang memang ingin menggunakan suplemen, alat kesehatan, atau produk lain sebagai pendamping, sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan yang kompeten.
Bukan dengan orang yang mendapatkan komisi dari penjualan produk tersebut.
Jangan Anti-MLM, Tetapi Jangan Juga Menelan Mentah-Mentah Klaimnya
Saya tidak mengatakan bahwa semua MLM adalah penipuan.
Saya juga tidak mengatakan bahwa semua produk kesehatan yang dijual melalui sistem MLM pasti tidak berguna.
Itu terlalu sederhana.
Yang perlu dilakukan justru lebih masuk akal:
Periksa produknya. Periksa legalitasnya. Periksa klaimnya. Periksa bukti ilmiahnya. Periksa harganya. Dan yang paling penting, periksa dari mana sebenarnya keuntungan bisnis tersebut berasal.
Kalau produknya memang bagus, biarkan kualitas dan bukti yang berbicara.
Tidak perlu mengatakan produk tersebut bisa menyembuhkan semua penyakit.
Tidak perlu menakut-nakuti orang dengan pengobatan medis.
Tidak perlu menjanjikan kesembuhan.
Dan tidak perlu menjadikan orang sakit sebagai target perekrutan karena mereka sedang berada dalam kondisi putus asa.
Produk Kesehatan Bukan Produk Ajaib
Pada akhirnya, saya percaya bahwa kita harus membedakan antara harapan dan klaim kesembuhan.
Harapan itu penting.
Sugesti positif juga bisa menjadi bagian dari semangat seseorang dalam menjalani proses pengobatan.
Tetapi harapan seharusnya berjalan bersama pengobatan yang benar, bukan menggantikannya.
Kalau seseorang sakit, carilah diagnosis yang tepat.
Gunakan obat yang memang sesuai.
Gunakan alat kesehatan sesuai fungsi dan petunjuknya.
Konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan yang kompeten.
Dan kalau ingin menggunakan produk tambahan, pastikan tidak bertentangan dengan pengobatan yang sedang dijalani.
Karena tubuh manusia bukan mesin yang bisa diperbaiki dengan satu produk untuk semua kerusakan.
Tidak ada alasan untuk percaya bahwa satu produk dapat menyembuhkan semua penyakit hanya karena seorang sales mengatakan demikian.
Kalau sebuah produk memang bermanfaat, seharusnya kita bisa membicarakannya secara jujur: apa manfaatnya, bagaimana cara menggunakannya, apa batasannya, apa risikonya, dan apa bukti yang mendukungnya.
Bukan dengan menjual mimpi.
Bukan dengan menjual ketakutan.
Dan terutama, bukan dengan menjual harapan kesembuhan kepada orang yang sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.
Karena ketika kesehatan sudah dijadikan bisnis, kejujuran seharusnya menjadi modal yang paling mahal—dan paling tidak boleh hilang.


Posting Komentar