Cara Menghadapi Orang Playing Victim: Jangan Sampai Kamu Ikut Jadi Korban


Pernah berhadapan dengan seseorang yang jelas-jelas melakukan kesalahan, tetapi ketika dikonfrontasi justru dia yang merasa paling tersakiti?

Kamu mencoba menjelaskan masalah, dia bilang kamu menyerang.

Kamu menagih janji, dia bilang kamu tidak pengertian.

Kamu menyampaikan fakta, dia bilang kamu jahat.

Lucunya, orang yang awalnya melakukan kesalahan tiba-tiba berubah menjadi korban.

Inilah yang sering disebut playing victim.

Playing victim bukan sekadar seseorang merasa sedih atau terluka. Dalam konteks hubungan sosial, istilah ini biasanya digunakan ketika seseorang terus memosisikan dirinya sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab, mendapatkan simpati, atau mengalihkan perhatian dari kesalahannya.

Masalahnya, kalau kita tidak tahu cara menghadapi orang playing victim, kita bisa ikut terseret ke dalam drama yang sebenarnya bukan milik kita.

Apa Itu Playing Victim?

Secara sederhana, playing victim adalah perilaku ketika seseorang memosisikan dirinya sebagai korban dalam sebuah konflik, bahkan ketika dirinya juga memiliki tanggung jawab terhadap masalah tersebut.

Contohnya begini.

Seseorang meminjam uang dan berjanji mengembalikannya minggu depan.

Seminggu kemudian belum dibayar.

Ditagih dengan baik-baik, jawabannya:

"Kenapa sih kamu nggak bisa ngerti kondisi aku?"

Ditagih lagi:

"Kamu tega banget sama aku."

Lalu akhirnya:

"Kalau dari awal tahu bakal begini, aku nggak akan pernah cerita masalahku ke kamu."

Lho?

Yang ditanya kapan membayar utang, kok malah membuka sesi curhat?

Utang belum lunas, plot twist sudah tiga episode.

Inilah salah satu bentuk perilaku playing victim yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Ciri-Ciri Orang yang Suka Playing Victim

Tidak semua orang yang merasa menjadi korban sedang playing victim. Ada orang yang memang benar-benar mengalami perlakuan tidak adil.

Karena itu, jangan asal memberikan label.

Namun, beberapa pola berikut bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang menggunakan posisi korban untuk menghindari tanggung jawab.

1. Selalu Menjadi Korban

Apa pun masalahnya, dia selalu punya alasan mengapa dirinya adalah korban.

Dia terlambat karena orang lain.

Dia gagal karena keadaan.

Dia berbuat salah karena dipancing.

Dia menyakiti orang karena sebelumnya pernah disakiti.

Pada akhirnya, semua orang salah kecuali dirinya.

Kalau hidupnya dibuat menjadi film, mungkin judulnya:

"Aku Tidak Pernah Salah, Semua Orang Hanya Salah Memahamiku."

2. Mengalihkan Pembicaraan

Kamu membahas satu kesalahan, dia membahas kesalahanmu yang terjadi lima tahun lalu.

Kamu bilang:

"Kamu kemarin janji mengembalikan uang."

Dia menjawab:

"Tapi dulu kamu juga pernah bikin aku kecewa."

Nah, pembahasannya sudah pindah jalur.

Dari utang menjadi sejarah hubungan.

Dari satu masalah menjadi arsip nasional.

Padahal yang sedang dibahas cuma satu hal.

Kapan utangnya dibayar?

3. Membuat Kamu Merasa Bersalah

Ini salah satu pola yang cukup melelahkan.

Kamu sebenarnya hanya menyampaikan keberatan, tetapi dia membuatmu merasa sebagai orang jahat.

"Kok kamu tega?"

"Kamu sekarang berubah."

"Padahal aku menganggap kamu teman."

"Kamu nggak seperti dulu."

Akhirnya kamu malah sibuk meminta maaf.

Padahal lima menit sebelumnya kamu adalah pihak yang dirugikan.

Hebat juga. Masalahnya belum selesai, tapi pelakunya sudah berhasil mendapatkan kompensasi emosional.

4. Sulit Mengakui Kesalahan

Orang yang sehat secara emosional tidak harus selalu benar.

Dia bisa berkata:

"Iya, aku salah."

"Aku minta maaf."

"Aku akan memperbaikinya."

Sebaliknya, orang yang terus playing victim cenderung mencari pembenaran.

Bukan mencari solusi.

Kenapa Orang Bisa Playing Victim?

Penyebabnya bisa bermacam-macam.

Ada yang memang terbiasa mendapatkan perhatian ketika memosisikan diri sebagai korban.

Ada yang takut menghadapi konsekuensi.

Ada yang memiliki mekanisme pertahanan diri ketika dikritik.

Ada pula yang memang sedang mengalami masalah psikologis atau tekanan hidup sehingga responsnya menjadi defensif.

Karena itu, jangan buru-buru mendiagnosis seseorang hanya berdasarkan perilakunya.

Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya.

Namun, memahami kemungkinan penyebab bukan berarti kita harus membiarkan perilaku yang merugikan terus terjadi.

Memahami seseorang dan membiarkan diri sendiri diperlakukan seenaknya adalah dua hal berbeda.

Cara Menghadapi Orang Playing Victim

Lalu bagaimana cara menghadapi orang yang suka playing victim?

Jawabannya bukan dengan ikut bermain drama.

Berikut beberapa cara yang lebih sehat.

1. Tetap Tenang

Jangan langsung terpancing.

Orang yang sedang memainkan posisi korban mungkin akan mengeluarkan berbagai pernyataan emosional.

Kalau kita ikut emosi, masalah akan semakin panjang.

Tetap kembali ke inti persoalan.

Misalnya:

"Aku memahami kamu sedang merasa tidak nyaman. Tapi masalah yang sedang kita bicarakan adalah janji yang belum kamu tepati."

Sederhana.

Tidak perlu teriak.

Tidak perlu menghina.

Tidak perlu membuat status 17 slide di Instagram.

2. Pisahkan Fakta dan Emosi

Ini penting.

Emosi seseorang valid untuk dirasakan, tetapi emosi tidak otomatis menghapus tanggung jawab.

Misalnya seseorang berkata:

"Aku sakit hati kamu menagih utang."

Kamu bisa memahami perasaannya tanpa membatalkan utangnya.

Jawab:

"Aku memahami kamu merasa tidak nyaman. Tetapi uang tersebut memang masih menjadi tanggung jawabmu."

Perasaan boleh berubah, fakta jangan ikut berubah.

3. Jangan Terjebak Membela Diri Terus-Menerus

Orang playing victim terkadang membuat kita sibuk menjelaskan diri.

Kita menjelaskan.

Dia membalas.

Kita menjelaskan lagi.

Dia mencari masalah lain.

Kita menjelaskan lagi.

Sampai akhirnya lupa apa masalah awalnya.

Kalau percakapan mulai seperti itu, kembali ke inti.

"Masalah yang kita bicarakan adalah X. Kita bisa membahas hal lain setelah masalah ini selesai."

Jangan biarkan pembicaraan berubah menjadi lomba siapa paling banyak membawa masa lalu.

4. Gunakan Bukti dan Fakta

Kalau masalahnya berkaitan dengan uang, pekerjaan, kesepakatan, atau tanggung jawab tertentu, simpan bukti.

Chat.

Transfer.

Email.

Dokumen.

Kesepakatan.

Bukan untuk mencari musuh.

Tetapi agar pembicaraan tidak berubah menjadi:

"Aku nggak pernah bilang begitu."

"Kayaknya kamu salah ingat."

"Perasaan aku nggak pernah janji."

Kadang-kadang screenshot memang lebih objektif daripada ingatan manusia.

5. Berikan Batas yang Jelas

Ini bagian yang sering dilupakan.

Menghadapi orang playing victim bukan berarti kita harus terus berusaha membuatnya mengerti.

Ada saatnya kita perlu berkata:

"Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini. Kalau kamu ingin menyelesaikannya, mari kita bicarakan solusinya."

Batas yang jelas membuat kita tidak mudah terseret.

Dan yang paling penting, batas bukan ancaman.

Batas adalah keputusan tentang apa yang akan kita lakukan ketika seseorang terus melanggar kesepakatan.

6. Jangan Takut Mengatakan "Tidak"

Tidak semua permintaan harus dipenuhi.

Tidak semua masalah harus kita selesaikan.

Tidak semua orang harus kita bantu.

Dan tidak semua hubungan harus dipertahankan dengan mengorbankan diri sendiri.

Kalau seseorang berkali-kali memanfaatkan kebaikan kita, mengatakan "tidak" bukan berarti kita berubah menjadi orang jahat.

Mungkin kita hanya mulai belajar.

Dulu terlalu baik, sekarang mulai membaca situasi.

7. Jangan Balas Playing Victim dengan Playing Victim

Ini jebakan lain.

Dia playing victim.

Kita ikut playing victim.

Dia membuat status.

Kita membuat status.

Dia menyindir.

Kita menyindir balik.

Akhirnya dua orang dewasa berkomunikasi menggunakan kode-kode di media sosial seperti sedang mengikuti kompetisi teka-teki.

Kalau memang ada masalah, selesaikan secara langsung dan proporsional.

Tidak semua konflik membutuhkan penonton.

8. Ketahui Kapan Harus Menjauh

Tidak semua orang bisa kita ubah.

Kalau seseorang sudah berkali-kali melakukan hal yang sama, tidak mau bertanggung jawab, memanipulasi perasaan, dan terus merugikan kita, menjaga jarak bisa menjadi pilihan yang sehat.

Menjauh bukan berarti membenci.

Kadang-kadang kita hanya menyadari bahwa hubungan tersebut sudah tidak sehat untuk dipertahankan.

Tidak semua pintu harus diketuk terus-menerus. Ada pintu yang memang lebih baik dilewati.

Sindiran untuk Orang yang Suka Playing Victim

"Hebat. Bisa bikin kesalahan sendiri, tapi yang minta pertanggungjawaban malah dibuat merasa bersalah."

"Kalau setiap kali salah kamu selalu menjadi korban, mungkin masalahnya bukan keadaan. Mungkin kamu memang terlalu nyaman menjadi korban."

"Menjadi korban itu tidak selalu berarti kamu benar. Kadang kamu hanya sedang tidak mau mengakui bahwa kamu juga punya andil dalam masalah."

"Ada orang yang kalau salah minta maaf. Ada juga yang kalau salah malah mencari penonton."

Tentu saja, sindiran bukan solusi utama.

Kalau masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi, selesaikan.

Kalau tidak bisa, buat batas.

Kalau tetap tidak bisa, tinggalkan.

Jangan sampai hidup kita habis hanya untuk memenangkan debat yang sebenarnya tidak penting.

Jangan Sampai Kamu Ikut Menjadi Korban

Menghadapi orang playing victim membutuhkan satu hal penting:

kendali atas diri sendiri.

Jangan biarkan emosi orang lain menentukan emosi kita.

Jangan biarkan rasa bersalah membuat kita menerima perlakuan yang tidak pantas.

Jangan pula menjadi terlalu sibuk membuktikan bahwa kita benar.

Kadang-kadang kemenangan terbaik dalam sebuah konflik bukan membuat orang lain mengakui kesalahannya.

Tetapi berhenti membiarkan perilakunya mengganggu hidup kita.

Karena ada orang yang memang tidak mencari penyelesaian.

Mereka hanya mencari pembenaran.

Dan kalau kita terus memberikan panggung, dramanya tidak akan pernah selesai.

Kesimpulan

Cara menghadapi orang playing victim adalah dengan tetap tenang, berpegang pada fakta, tidak mudah merasa bersalah, menetapkan batas, dan mengetahui kapan harus berhenti meladeni konflik.

Pahami bahwa seseorang boleh merasa terluka, tetapi perasaan tersebut tidak otomatis menghapus tanggung jawabnya.

Kalau memang salah, akui.

Kalau memang menjadi korban, cari solusi.

Kalau memang belum mampu menyelesaikan masalah, komunikasikan.

Yang tidak perlu dilakukan adalah mengubah pelaku menjadi korban dan korban menjadi pelaku hanya demi menyelamatkan ego.

Karena pada akhirnya, menjadi manusia dewasa bukan tentang selalu terlihat benar, tetapi berani mengakui ketika kita memang salah.

Jangan terlalu sibuk mencari posisi sebagai korban sampai lupa bahwa kamu juga pernah menjadi penyebab masalah.
Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar