
Belakangan ini istilah trust issue semakin sering terdengar, terutama di media sosial. Tidak sedikit orang mengaku sulit mempercayai orang lain setelah mengalami pengkhianatan, kebohongan, atau hubungan yang tidak sehat.
Artikel ini dibuat atas permintaan seorang teman yang sedang mengalami trust issue. Melalui tulisan ini, ardysetyo ingin berbagi informasi berdasarkan referensi psikologi serta sudut pandang pribadi agar kita dapat menyikapi trust issue dengan lebih sehat dan bijaksana.
Perlu dipahami bahwa trust issue bukanlah sebuah diagnosis gangguan mental, melainkan istilah populer yang menggambarkan kesulitan seseorang dalam memberikan kepercayaan kepada orang lain.
Apa Itu Trust Issue?
Trust issue adalah kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan mempercayai orang lain karena adanya rasa curiga, takut disakiti, atau khawatir akan mengalami pengkhianatan kembali.
Menurut Siloam Hospitals, trust issue dapat dipengaruhi oleh pengalaman traumatis, hubungan yang tidak sehat, pengalaman dikhianati, hingga beberapa kondisi kesehatan mental yang membuat seseorang lebih sulit membangun rasa percaya.
Sementara itu, American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa pengalaman pengkhianatan, pola hubungan yang tidak aman (insecure attachment), maupun trauma masa lalu dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Artinya, seseorang yang memiliki trust issue bukan berarti tidak ingin menjalin hubungan. Mereka hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa aman dan percaya.
Penyebab Trust Issue
1. Pengalaman Dikhianati
Salah satu penyebab paling umum adalah pernah mengalami pengkhianatan dari orang yang dipercaya, misalnya:
- Dibohongi
- Diselingkuhi
- Ditipu
- Dikhianati teman
- Janji yang terus diingkari
Pengalaman seperti ini meninggalkan luka emosional sehingga seseorang menjadi lebih berhati-hati ketika bertemu orang baru.
Di sisi lain, pengalaman tersebut juga bisa menjadi pelajaran agar lebih bijak dalam mengenali karakter seseorang sebelum memberikan kepercayaan sepenuhnya.
2. Trauma Masa Lalu
Trauma tidak selalu berasal dari hubungan percintaan.
Lingkungan keluarga yang penuh konflik, pola asuh yang kurang aman (insecure attachment), hingga pengalaman menjadi korban perundungan (bullying) juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mempercayai orang lain.
Trauma yang belum diproses dengan baik sering kali membuat seseorang terus mengantisipasi kemungkinan buruk, meskipun situasi saat ini sebenarnya sudah berbeda.
3. Rasa Khawatir Berlebihan
Rasa khawatir sebenarnya merupakan hal yang wajar.
Namun apabila kekhawatiran muncul secara terus-menerus hingga mengganggu aktivitas maupun hubungan sosial, maka hal tersebut dapat menjadi penghambat dalam membangun hubungan yang sehat.
Misalnya:
- Takut dikecewakan
- Takut ditinggalkan
- Takut dimanfaatkan
- Selalu berpikir negatif tanpa bukti yang jelas
Belajar mengelola pikiran negatif menjadi langkah penting agar kekhawatiran tidak mengendalikan kehidupan.
4. Kepercayaan Diri yang Rendah
Sebagian orang merasa dirinya tidak cukup baik sehingga selalu takut ditinggalkan.
Perasaan seperti ini dapat membuat seseorang menjadi terlalu curiga, mudah cemburu, atau terus meminta kepastian dari pasangan maupun orang terdekat.
Padahal hubungan yang sehat dibangun oleh dua orang yang sama-sama saling percaya, bukan saling mengawasi.
Dampak Trust Issue
Apabila tidak dikelola dengan baik, trust issue dapat menimbulkan berbagai dampak, seperti:
- Sulit membuka diri kepada orang lain.
- Hubungan pertemanan maupun percintaan menjadi tidak sehat.
- Sering merasa cemas dan curiga tanpa alasan yang jelas.
- Mudah salah paham.
- Sulit bekerja sama dalam lingkungan sosial maupun pekerjaan.
Karena itu, penting untuk mengenali penyebabnya sejak dini agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Cara Mengatasi Trust Issue dengan Bijak
1. Sadari Bahwa Tidak Semua Orang Sama
Seseorang yang pernah menyakiti kita bukan berarti semua orang akan melakukan hal yang sama.
Setiap orang memiliki karakter, latar belakang, dan cara memperlakukan orang lain yang berbeda.
Memberikan kesempatan kepada orang baru bukan berarti melupakan masa lalu, tetapi memberi ruang bagi diri sendiri untuk bertumbuh.
2. Berani Mencoba Membuka Hati
Ketakutan memang akan selalu ada.
Namun jika rasa takut membuat kita menutup diri sepenuhnya, maka kesempatan untuk mendapatkan hubungan yang sehat juga akan ikut hilang.
Tidak semua hubungan akan berjalan sempurna, tetapi setiap pengalaman dapat menjadi pelajaran berharga.
3. Bangun Kepercayaan Secara Bertahap
Kepercayaan tidak perlu diberikan sekaligus.
Bangunlah hubungan secara perlahan melalui komunikasi yang jujur, konsisten, dan saling menghargai.
Memberikan kepercayaan sedikit demi sedikit jauh lebih sehat dibanding langsung percaya sepenuhnya atau justru tidak percaya sama sekali.
4. Fokus pada Kebahagiaan Diri Sendiri
Sebelum berharap orang lain membuat kita bahagia, belajarlah membangun kebahagiaan dari diri sendiri.
Ketika seseorang memiliki kehidupan yang seimbang, ia cenderung lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan dalam hubungan.
Hubungan yang sehat bukan tentang saling melengkapi kekosongan, tetapi saling mendukung untuk bertumbuh bersama.
5. Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional
Jika trust issue sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, maupun hubungan sosial dalam waktu yang lama, berkonsultasi dengan psikolog merupakan langkah yang baik.
Psikolog dapat membantu mengidentifikasi penyebab utama sekaligus memberikan strategi untuk membangun kembali rasa percaya secara sehat.
Mencari bantuan bukan berarti lemah, melainkan bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental diri sendiri.
Penutup
Trust issue bukanlah sesuatu yang memalukan. Banyak orang pernah mengalaminya setelah menghadapi pengalaman hidup yang menyakitkan.
Yang terpenting bukanlah menghapus masa lalu, melainkan belajar agar pengalaman tersebut tidak terus mengendalikan masa depan.
Menurut ardysetyo, kepercayaan bukan sesuatu yang diberikan begitu saja, tetapi dibangun melalui waktu, kejujuran, dan konsistensi.
Jika saat ini kamu merasa sulit mempercayai orang lain, tidak apa-apa. Berikan waktu untuk dirimu sendiri sembari terus belajar membuka hati kepada orang-orang yang memang layak dipercaya.
Seperti sebuah kutipan sederhana yang selalu saya pegang:
"Ketika orang baik terasa sulit ditemukan, jadilah orang baik itu. Dan ketika kepercayaan terasa langka, jadilah pribadi yang dapat dipercaya."
Karena sering kali, perubahan terbesar dimulai dari diri kita sendiri.
Sumber Referensi
- Siloam Hospitals. Mengenal Tanda-Tanda Trust Issue dan Cara Mengatasinya. https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/trust-issue-adalah
- American Psychological Association (APA). Building and Repairing Trust in Relationships. https://www.apa.org
- National Institute of Mental Health (NIMH). Coping With Trauma and Stress. https://www.nimh.nih.gov


Posting Komentar