Kerokan: Mitos, Kepercayaan, atau Fakta? Ini Penjelasan dan Manfaatnya Menurut Kemenkes RI


Sumber gambar: halojasa.com

Kerokan merupakan salah satu metode tradisional yang sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia untuk membantu meredakan gejala masuk angin. Mulai dari badan pegal, meriang, hingga rasa tidak enak badan, kerokan sering menjadi pilihan pertama sebelum mengonsumsi obat. Namun, benarkah kerokan hanya mitos dan sugesti semata? Atau memang ada manfaat medis di baliknya?

Artikel ini dibuat berdasarkan opini pribadi penulis serta mengutip informasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Yuk, kita bahas lebih dalam mengenai kerokan dari sisi mitos, kepercayaan, hingga fakta medisnya.

Apa Itu Kerokan?

Kerokan adalah metode tradisional dengan cara menggosok permukaan kulit menggunakan benda seperti koin pada area tubuh tertentu, terutama punggung, leher, dan bahu. Sebelum dikerok, biasanya kulit diolesi minyak kayu putih, balsem, atau minyak lainnya agar proses gesekan terasa lebih nyaman.

Gesekan tersebut akan menimbulkan warna merah pada kulit. Banyak orang percaya bahwa semakin merah hasil kerokan, maka semakin banyak “angin” atau penyakit di dalam tubuh.

Kenapa Kulit Menjadi Merah Saat Kerokan?

Secara medis, warna merah yang muncul setelah kerokan terjadi karena pembuluh darah kapiler di bawah kulit mengalami pelebaran. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya jika dilakukan dengan benar dan tidak berlebihan.

Pelebaran pembuluh darah tersebut dapat membantu meningkatkan aliran darah dan metabolisme tubuh pada area yang dikerok. Inilah yang membuat tubuh terasa lebih ringan, hangat, dan segar setelah kerokan.

Selain itu, kerokan juga dipercaya dapat membantu tubuh melepaskan hormon endorfin, yaitu hormon yang berkaitan dengan rasa nyaman dan relaksasi.

Apakah Kerokan Bisa Menyembuhkan Masuk Angin?

Pertanyaan seperti ini sering muncul:
  • Apakah kerokan cuma mitos?
  • Apakah kerokan hanya sugesti?
  • Benarkah kerokan memiliki manfaat kesehatan?

Berdasarkan beberapa informasi yang dikutip dari Kementerian Kesehatan RI, kerokan memang memiliki sejumlah manfaat untuk membantu meringankan gejala tertentu, di antaranya:
  • Membantu meredakan gejala masuk angin seperti pilek, demam, dan badan pegal
  • Meringankan sakit kepala, nyeri leher, dan mata lelah
  • Membantu mengurangi keluhan pada masa perimenopause
  • Mempercepat pemulihan otot setelah aktivitas fisik
  • Membantu mengurangi nyeri punggung pada lansia
  • Membantu mengurangi peradangan tertentu, termasuk pada penderita hepatitis B

Meski begitu, kerokan bukanlah pengganti pengobatan medis. Jika kondisi tubuh semakin memburuk atau gejala tidak kunjung membaik, tetap disarankan untuk memeriksakan diri ke tenaga kesehatan.

Kesimpulan

Kerokan bukan sekadar mitos atau kepercayaan turun-temurun. Beberapa manfaatnya memang telah diteliti dan diakui dalam dunia kesehatan sebagai terapi pendukung untuk membantu meredakan gejala tertentu.

Namun, kerokan tetap harus dilakukan dengan cara yang benar dan tidak berlebihan. Hindari melakukan kerokan terlalu sering karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Jika dilakukan dengan tepat, kerokan dapat menjadi salah satu cara tradisional yang membantu tubuh terasa lebih nyaman dan rileks.

Posting Komentar