Childfree: Pengertian, Alasan, dan Pandangan tentang Pilihan Tidak Memiliki Anak


Di tengah kehidupan modern, semakin banyak orang membicarakan istilah childfree. Ada yang menganggap childfree sebagai pilihan hidup yang wajar, tetapi ada pula yang memandangnya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai keluarga dan budaya yang sudah lama berkembang di masyarakat.

Sebenarnya, apa itu childfree?

Mengapa seseorang memilih untuk tidak memiliki anak? Apakah childfree berarti seseorang membenci anak-anak? Apakah orang yang memilih childfree adalah orang yang egois?

Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab hanya dengan melihat keputusan seseorang dari luar.

Karena pada akhirnya, keputusan mengenai memiliki anak atau tidak adalah keputusan besar yang berkaitan dengan kehidupan, tanggung jawab, kondisi finansial, hubungan pasangan, kesiapan mental, nilai yang diyakini, dan banyak hal lainnya.

Apa Itu Childfree?

Childfree adalah pilihan seseorang untuk tidak memiliki anak, baik anak biologis maupun anak adopsi.

Istilah ini berbeda dengan seseorang yang belum memiliki anak tetapi masih ingin mempunyai anak di masa depan.

Penelitian mengenai childfree juga membedakan orang yang memang secara sadar tidak menginginkan anak dengan orang yang tidak memiliki anak karena keadaan tertentu, misalnya masalah kesehatan, kondisi ekonomi, infertilitas, atau keadaan kehidupan lainnya.

Jadi, tidak semua orang yang tidak mempunyai anak dapat disebut childfree.

Sederhananya:

Childfree = memilih untuk tidak memiliki anak.

Sedangkan seseorang yang belum memiliki anak tetapi masih berharap mempunyai anak di kemudian hari tentu berada dalam kondisi yang berbeda.

Mengapa Ada Orang yang Memilih Childfree?

Tidak ada satu alasan yang berlaku untuk semua orang.

Setiap orang mempunyai kehidupan, pengalaman, prioritas, dan pertimbangan yang berbeda.

Beberapa alasan yang sering muncul antara lain:

1. Tidak memiliki keinginan menjadi orang tua

Tidak semua orang mempunyai keinginan untuk menjadi ayah atau ibu.

Sebagaimana seseorang mempunyai pilihan mengenai pekerjaan, tempat tinggal, pasangan, maupun gaya hidup, sebagian orang juga merasa bahwa menjadi orang tua bukan jalan hidup yang ingin mereka jalani.

Ini bukan berarti mereka membenci anak-anak.

Tidak menyukai peran sebagai orang tua dan membenci anak adalah dua hal yang berbeda.

2. Pertimbangan finansial

Membesarkan anak membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Mulai dari kebutuhan sehari-hari, makanan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan lain yang muncul selama proses tumbuh kembang anak.

Karena itu, sebagian orang merasa bahwa memiliki anak harus dibarengi dengan kesiapan finansial yang matang.

Daripada memiliki anak tetapi tidak mampu memberikan kehidupan yang layak, mereka memilih untuk tidak memiliki anak.

3. Ingin fokus pada kehidupan dan tujuan pribadi

Ada orang yang ingin menggunakan waktunya untuk pendidikan, karier, bisnis, perjalanan, keluarga, kegiatan sosial, atau berbagai tujuan pribadi lainnya.

Bukan berarti kehidupan tersebut lebih baik daripada kehidupan sebagai orang tua.

Hanya saja, setiap manusia mempunyai definisi kebahagiaan yang berbeda.

4. Pengalaman hidup

Pengalaman masa kecil, hubungan keluarga, lingkungan, maupun pengalaman pribadi juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang memandang pernikahan dan memiliki anak.

Ada orang yang tumbuh dalam keluarga yang sangat bahagia.

Ada pula yang mempunyai pengalaman keluarga yang tidak menyenangkan.

Pengalaman tersebut dapat membuat seseorang mempunyai pandangan berbeda mengenai kehidupan berkeluarga.

5. Pertimbangan terhadap tanggung jawab sebagai orang tua

Menjadi orang tua bukan sekadar mempunyai anak.

Ada tanggung jawab untuk merawat, mendidik, melindungi, memberikan kasih sayang, dan mendampingi anak sampai mereka mampu menjalani kehidupannya sendiri.

Karena itu, sebagian orang memilih untuk tidak menjadi orang tua karena merasa tidak ingin mengambil tanggung jawab tersebut.

Apakah Childfree Berarti Egois?

Ini adalah salah satu perdebatan paling sering muncul ketika membicarakan childfree.

Menurut saya, terlalu sederhana apabila seseorang langsung disebut egois hanya karena memilih tidak memiliki anak.

Sebaliknya, seseorang juga tidak otomatis menjadi lebih baik hanya karena memiliki anak.

Menjadi orang tua membutuhkan kesiapan dan tanggung jawab.

Memiliki anak seharusnya bukan sekadar karena tekanan dari keluarga, lingkungan, atau karena takut dianggap berbeda.

Anak bukan alat untuk memenuhi ekspektasi sosial.

Anak juga bukan sekadar penerus nama keluarga.

Anak adalah manusia yang nantinya mempunyai kehidupan, perasaan, kebutuhan, dan masa depannya sendiri.

Karena itu, keputusan untuk memiliki anak seharusnya dipikirkan dengan serius.

Childfree Bukan Berarti Membenci Anak

Ini juga merupakan kesalahpahaman yang cukup umum.

Seseorang dapat menyukai anak-anak tetapi tidak ingin memiliki anak sendiri.

Contohnya sederhana.

Ada orang yang senang bermain bersama keponakan, menyayangi anak-anak temannya, atau merasa nyaman berada di sekitar anak-anak.

Namun ketika ditanya apakah ingin menjadi orang tua, jawabannya adalah tidak.

Tidak ada kontradiksi di sana.

Menyukai anak dan ingin mempunyai anak adalah dua hal yang berbeda.

Bagaimana dengan Anggapan "Nanti Juga Menyesal"?

Kalimat seperti ini sering diberikan kepada orang yang mengatakan dirinya childfree.

"Besok kalau sudah tua pasti menyesal."

"Mungkin sekarang belum kepikiran."

"Nanti kalau sudah tua siapa yang merawat?"

Pertanyaan tersebut memang bisa muncul karena kekhawatiran.

Namun masa depan seseorang tidak dapat diketahui secara pasti.

Orang yang hari ini ingin memiliki anak juga tidak dapat menjamin bagaimana kehidupannya puluhan tahun kemudian.

Begitu pula orang yang memilih childfree tidak bisa mengetahui seluruh perjalanan hidupnya di masa depan.

Karena itu, daripada mengatakan seseorang pasti akan menyesal, mungkin lebih baik membiarkan setiap orang mempertimbangkan keputusan hidupnya secara matang.

Childfree dan Tekanan Sosial

Dalam masyarakat yang masih menganggap menikah dan memiliki anak sebagai bagian penting dari kehidupan, keputusan untuk childfree dapat menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan.

Pertanyaan seperti:

"Kapan menikah?"

"Kapan punya anak?"

"Sudah lama menikah kok belum punya anak?"

"Jangan terlalu memilih."

"Kalau tidak punya anak nanti hidupmu bagaimana?"

mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang.

Namun bagi orang yang menerimanya berulang kali, pertanyaan tersebut bisa menjadi tekanan.

Sebuah penelitian mengenai fenomena childfree di Indonesia menemukan bahwa keputusan untuk tidak memiliki anak dipandang sebagai pilihan hidup dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya.

Artinya, fenomena childfree tidak bisa dipahami hanya dari satu sudut pandang.

Apakah Memiliki Anak Lebih Baik daripada Childfree?

Tidak ada jawaban sederhana untuk pertanyaan ini.

Memiliki anak bukan perlombaan.

Childfree juga bukan perlombaan.

Orang yang memiliki anak mempunyai perjalanan hidupnya sendiri.

Orang yang memilih tidak memiliki anak juga mempunyai perjalanan hidupnya sendiri.

Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalani keputusan tersebut dengan bertanggung jawab.

Seseorang yang memiliki anak harus bertanggung jawab terhadap anaknya.

Seseorang yang memilih childfree juga harus bertanggung jawab terhadap keputusan hidupnya sendiri.

Tidak perlu saling merasa paling benar.

Jangan Menjadikan Pilihan Hidup sebagai Alat untuk Menghakimi

Menurut saya, salah satu masalah terbesar dalam pembahasan childfree bukanlah perbedaan pendapatnya.

Perbedaan pendapat adalah hal yang normal.

Masalahnya adalah ketika perbedaan pilihan tersebut berubah menjadi kebiasaan untuk menghakimi orang lain.

Orang yang memilih memiliki anak tidak seharusnya merendahkan orang yang childfree.

Begitu pula orang yang childfree tidak perlu merendahkan orang yang memilih menjadi orang tua.

Kita semua menjalani kehidupan dengan kondisi yang berbeda.

Apa yang cocok untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lain.

Dan apa yang membuat seseorang bahagia belum tentu menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lainnya.

Pernikahan Tidak Harus Selalu Diakhiri dengan Anak?

Bagi sebagian masyarakat, pernikahan dan memiliki anak dianggap sebagai satu paket.

Namun dalam kenyataan kehidupan, setiap pasangan mempunyai keadaan yang berbeda.

Ada pasangan yang ingin memiliki anak.

Ada yang belum siap.

Ada yang tidak ingin memiliki anak.

Ada pula pasangan yang sangat ingin mempunyai anak tetapi menghadapi keadaan yang membuat mereka belum atau tidak dapat memilikinya.

Karena itu, kita sebaiknya berhati-hati ketika membicarakan masalah anak kepada pasangan lain.

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui cerita di balik kehidupan mereka.

Satu pertanyaan yang menurut kita sederhana bisa saja menjadi sesuatu yang sangat sensitif bagi orang lain.

Childfree Adalah Pilihan, Bukan Alasan untuk Saling Membenci

Pada akhirnya, childfree merupakan salah satu pilihan hidup yang ada di tengah masyarakat modern.

Pilihan tersebut dapat diperdebatkan dari sisi sosial, budaya, agama, ekonomi, maupun filosofi.

Namun dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita tidak perlu menjadikan perbedaan pilihan tersebut sebagai alasan untuk saling membenci.

Ada orang yang menemukan kebahagiaannya melalui keluarga besar.

Ada orang yang bahagia dengan kehidupan bersama anak-anaknya.

Ada pula orang yang merasa kehidupannya lebih sesuai ketika tidak menjadi orang tua.

Selama seseorang menjalani kehidupannya dengan bertanggung jawab dan tidak merugikan orang lain, kita mungkin tidak perlu terburu-buru memberikan label buruk.

Karena hidup bukan tentang memenuhi standar kebahagiaan milik orang lain.

Hidup adalah tentang memahami pilihan kita sendiri dan siap bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

Dan mungkin, sebelum bertanya kepada seseorang,

"Kapan punya anak?"

ada pertanyaan yang jauh lebih baik:

"Apakah kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang?"

Sebab pada akhirnya, yang kita cari dalam hidup bukanlah sekadar memenuhi daftar pencapaian yang dibuat masyarakat.

Kita mencari kehidupan yang bisa kita jalani dengan sadar, bertanggung jawab, dan tanpa harus terus-menerus berpura-pura menjadi orang lain.

---

Kesimpulan

Childfree adalah keputusan untuk memilih tidak memiliki anak. Keputusan ini berbeda dengan kondisi tidak memiliki anak karena keadaan yang tidak diinginkan.

Tidak semua orang memilih childfree karena alasan yang sama. Ada yang mempertimbangkan finansial, karier, pengalaman hidup, kebebasan pribadi, kesiapan menjadi orang tua, maupun alasan lainnya.

Perbedaan pilihan mengenai memiliki anak seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menghakimi.

Memiliki anak adalah tanggung jawab besar.

Tidak memiliki anak juga merupakan pilihan hidup yang perlu dipahami dan dipertanggungjawabkan.

Yang terpenting bukan siapa yang paling benar, tetapi apakah seseorang mampu menjalani pilihannya dengan bijaksana.

Karena setiap orang mempunyai jalan hidup yang berbeda.
Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar